Skip to content

Menelusuri Sistem ‘Challenge’ Idol Jepang Lewat Kisah BABYRAIDS JAPAN

4 menit

Pada ulang tahun Teater JKT48 yang lalu, sebuah tantangan (challenge) diajukan kepada Team KIII. Mereka baru akan mendapat setlist baru, hanya jika pertunjukan teater mereka dapat dipenuhi penonton (full house) selama 20 kali. Sebentar, apa-apaan ini?

‘Challenge’ semacam itu sudah kesekian kali diajukan kepada Team KIII. Sebelumnya, saat hendak mengadakan konser tunggal “Jangan Kasih K3ndor“, mereka ditantang untuk menjual 1000 tiket dalam 48 hari. Apabila target tak tercapai, konser akan dibatalkan. Syukurlah, tiket terjual dua kali lipat dan konser berjalan dengan luar biasa.

 

 

Sistem ‘challenge’ sebenarnya bukan hal yang spesial di skena idol Jepang. Di sana, sistem ‘challenge’ menjadi kultur yang lazim untuk memacu aktivitas grup idol. Dan dalam radar saya, salah satu yang tepat menjadi studi kasus sistem ‘challenge’ ini adalah grup idol yang tengah merayakan ulang tahun debut ke-5, Babyraids Japan.

Begini ceritanya.

Babyraids Japan dibentuk atas prakarsa idol legendaris dari grup Idoling!!!, Ami Kikuchi, pada bulan Mei 2012. Debut pertama segera meluncur pada bulan September di tahun yang sama. Namun sebuah tantangan segera diberikan kepada mereka: jika dalam waktu 2 tahun mereka belum bisa tampil di venue prestisius Nippon Budokan, maka Babyraids akan dibubarkan.

Hasilnya dalam waktu dua tahun mereka bekerja keras dan mulai menuai hasil di tahun 2014. Babyraids Japan tampil di pelbagai festival idol, bahkan menembus kerasnya persaingan menjadi line-up festival rock “Rock in Japan” 2014. Panggung Budokan pun sudah tampak di pelupuk mata.

 

 

Eits, jangan senang dulu. Untuk meyakinkan mereka bisa tampil di Budokan, Babyraids mendapatkan ‘challenge’ tambahan yakni mengumpulkan 10.000 tanda tangan dari fans. Jika gagal dapat 10.000 tanda tangan, maka seluruh perjuangan mereka selama 2 tahun akan sia-sia: Babyraids dibubarkan.

Saya ingat betul menutup mata saat menonton live streaming pengumuman jumlah tanda tangan pada konser di bulan September 2014 itu. Sebelumnya Babyraids tampil dengan penuh tenaga dan emosional, lantaran bisa jadi konser mereka malam itu adalah konser terakhir apabila tanda tangan yang mereka kumpulkan tak mencapai target.

Ketika leader Erika Denya menarik stiker yang menyelubungi angka jumlah tanda tangan, stiker terpotong pada angka 872. Fans sempat shock. Namun ketika potongannya ditarik, angka yang tercantum adalah 13.872, yang artinya Babyraids dapat tampil di Budokan -dan kemudian dilaksanakan pada tanggal 18 Desember 2014.

 

 

“Sejak lagu pertama, saya ngga bisa menahan tangis,” ujar produser sekaligus mentor mereka, Ami Kikuchi yang saat itu baru saja graduate dari Idoling!!! -saat melihat anak asuhnya dapat berdiri di panggung Nippon Budokan.

Hari ini (20/9), Babyraids Japan merilis mini album “The BRJ” sebagai memento peringatan 5 tahun perjalanan karir mereka. Dan baru-baru ini, mereka tampil di San Fransisco, Amerika Serikat sebagai headliner J-Pop Summit 2017 di sana. Moncernya karir mereka kini tentu tak lepas dari perjuangan mereka memenuhi ‘challenge’ 3 tahun lalu itu.

Selain Babyraids, tentu ada banyak lagi grup idol yang tak luput ‘dikerjain’ sistem ‘challenge’ ini.

Satu lagi contoh (nanggung, hehe), di tahun 2010 grup S/mileage (kini berganti nama jadi ANGERME) ditantang untuk mengumpulkan 10.000 foto orang senyum demi mendapatkan major debut. Bukan main konyolnya melihat member S/mileage keluar masuk ruangan kantor agensi mereka meminta kesediaan karyawan untuk difoto dengan pose tersenyum. Tentu saja harus memohon-mohon.

Untungnya, saat itu fans boleh membantu. Sebuah website dibuat khusus menyediakan formulir bagi fans untuk mengirim foto tersenyum mereka. Hingga H-3, mereka baru mendapatkan 9000 foto senyum untuk kampanye yang disebut ‘Egao Campaign‘ ini.

Saat hari penghitungan dalam konser bersama Erina Mano pada 3 April 2010 di Shibuya, foto-foto orang senyum itu ditempel dalam banner besar yang menyusun foto grup S/mileage. Ada bagian yang sengaja dikosongkan untuk ditempeli beberapa foto terakhir yang ternyata pas 10.000 foto, menandai keberhasilan mereka menyelesaikan ‘challenge’ ini.

Jika saja waktu itu mereka gagal, tentu kita tak akan menyaksikan Kanon Fukuda menantang grup K-pop SNSD soal siapa yang punya kaki lebih mulus. 😀

 

 

Kira-kira, dapatkah Team KIII menyelesaikan challenge buat mereka?

Sebab jika teater mereka tak kunjung 20 kali full house, itu berarti mereka akan terus memainkan setlist yang sama. Setlist yang sama terus menerus tentu akan membuat fans jenuh, alih-alih mau datang mengisi teater. Member juga akan bosan, dan bukan tak mungkin, pelan-pelan akan grad satu persatu karena merasa stagnan.

‘Challenge’ yang awalnya ingin mengembalikan suasana ramai di teater ini sebenarnya mempertaruhkan hal yang lebih besar daripada sekadar konser yang batal. Fans juga ikut mempermasalahkan beban yang dipikul Team KIII, apalagi waktunya tak begitu jauh dari ‘challenge’ sebelumnya. Melihat adanya ketidakjelasan, manajemen JKT48 pun merilis penjelasan resmi mengenai tantangan ini.

Semoga Team KIII mendapat hasil yang terbaik.

 

 

Babyraids JAPAN

Official Website http://babyraids.lespros.co.jp/
Official Twitter https://twitter.com/babyraids_JAPAN

 

Komentar Anda