Skip to content

Mengapa Tongsis Mesti Ditemukan Dua Kali?

3 menit

Tongsis sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi inovasi gara-gara kecopetan itu baru menjadi tren belakangan.


Di akhir pekan biasanya saya melewatkan waktu membaca artikel-artikel panjang yang saya simpan dalam Pocket. Ada yang seru pas membaca artikel di sebuah portal idol kesukaan saya: bahasan soal Selfie Culture.

Dalam artikel itu dibahas soal Selfie Stick, atau yang lebih kita kenal dengan tongsis (tongkat narsis). Di situ disebutkan tongsis sudah ada sejak era 70/80-an, dan hal itu lantas memunculkan satu pertanyaan.

Mengapa tongsis baru jadi tren belakangan ini?

[perfectpullquote align=”left” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Sayangnya, tongsis Ueda tak laku di pasaran. Bukan itu saja, tongsis buatannya menjadi olok-olok.[/perfectpullquote]

Sedikit riset membawa saya mengetahui riwayat tongsis. Tongsis pertama lahir di awal 1980-an, dari seorang karyawan perusahaan pembuat kamera Konica-Minolta bernama Hiroshi Ueda.

Idenya muncul di tengah liburan ke Eropa bersama istri. Di museum Louvre — Paris, ia meminta seorang anak mengambil foto untuk mereka. Namun begitu ia menjauh untuk berpose,

“Anak itu kabur membawa lari kamera saya,” katanya kepada BBC World Service edisi April 2015.

Agar lain kali tak perlu meminta bantuan orang untuk berfoto, ia lalu mengembangkan Camera Extender. Konica-Minolta lantas memproduksi sekaligus mendaftarkan hak paten atas prototipe tongsis itu di tahun 1983.

Salah satu foto awal yang dihasilkan dari tongsis buatan Hiroshi Ueda

Sayangnya, tongsis Ueda tak laku di pasaran. Bukan itu saja, tongsis buatannya menjadi olok-olok di tahun 1995 dengan masuk ke dalam kompilasi penemuan tak berguna “101 Un-Useless Japanese Inventions”.

Tongsis Ueda itu berguna saja tidak, apalagi jadi tren.

Melompat ke tahun 2006, seorang Kanada bernama Wayne Fromm juga tengah liburan di Eropa saat memikirkan alat yang dapat membantunya mengambil foto tanpa meminta bantuan orang lain.

Sepulang dari sana ia menganalisa berbagai jenis mekanika payung dan lahirlah Quick Pod, yang direferensi sebagai tongsis modern.

Selfie pertama yang dilakukan Wayne Fromm dengan tongsis buatannya

Desain Fromm ini menjadi tren yang dijiplak dan diproduksi besar-besaran di Cina Utara, lantas menyebar ke seluruh dunia .

[perfectpullquote align=”left” cite=”” link=”” color=”” class=”” size=””]Hiroshi Ueda beranggapan, “Ide saya datang kepagian. Terlalu dini.”[/perfectpullquote]

Soal apakah Fromm sendiri menjiplak ide tongsis, ia mengaku tidak awas soal Ueda yang sudah menemukan lebih dulu. Lagipula, hak paten Ueda terhadap tongsis telah berakhir di tahun 2003.

Lebih menarik dari dulu-duluan penemuan tongsis ini, adalah pertanyaan dari artikel yang saya baca di atas. Mengapa tongsis versi Fromm justru jadi tren dan tidak demikian dengan ‘penemuan tak berguna’ Ueda?

Hiroshi Ueda beranggapan, “Ide saya datang kepagian. Terlalu dini.”

Artikel yang saya baca itu tak memberikan jawaban jelas. Berhenti tepat seperti kesimpulan Ueda, bahwa kehadiran tongsis Ueda terlalu dini.

Tetapi jika dapat menyimpulkan, melejitnya popularitas tongsis tak lepas dari Selfie Culture itu sendiri. Selfie — yang jadi istilah tren sejak seorang pemuda Australia yang mabuk memasang foto bibirnya di sebuah forum, belum ada saat Ueda memasarkan tongsis buatannya.

Toh kehadiran selfie sebagai ‘neo-chic’ saja tak cukup. Adalah media sosial yang kemudian menjadi medium penjungkit dan dengan gegas melontarkan selfie sebagai mata uang gengsi.

Tanpa media sosial, rasanya Wayne Fromm pun akan melalui apa yang dialami Ueda. Berakhir dalam kompilasi olok-olok penemuan tak berguna.

Komentar Anda